Saturday, 8 August 2015



MAKALAH TRANSMIGRASI 


BAB I
PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang Masalah
Indonesia adalah negara yang subur dan memiliki potensi keanekaragaman hayati yang sangat melimpah (mega biodiversity). Potensi keanekaragaman hayati tersebut merupakan salah satu yang terbesar di dunia setelah Zaire dan Brazil. Kekayaan sumber daya alam ini adalah anugerah dari Sang Pencipta yang harus bisa dimanfaatkan seefisien mungkin untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Untuk dapat memanfaatkan kekayaan alam yang melimpah tersebut, pasti diperlukan sumber daya manusia yang melimpah pula. Namun sayangnya potensi sumber daya manusia itu, tidak tersebar secara merata di seluruh wilayah Indonesia. Potensi sumber daya manusia Indonesia lebih banyak terkonsentrasi di pulau Jawa, Madura dan Bali.
Kepadatan penduduk di pulau-pulau ini sampai sekarang adalah yang paling tinggi di Indonesia, padahal daya tampung dan daya dukung dari pulau-pulau ini untuk menyediakan dan memenuhi kebutuhan hidup bagi penduduknya sudah sangat minim. Melihat ketimpangan antara potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia tersebut, maka pemerintah mencanangkan suatu program khusus yang diberi nama transmigrasi.Transmigrasi merupakan istilah bahasa Indonesia untuk migrasi. Transmigrasi secara lebih spesifik merupakan pemindahan penduduk dari pulau-pulau yang terlalu padat penduduknya ke pulau-pulau yang kepadatan penduduknya masih cukup rendah dan potensi alamnya masih belum digarap secara lebih intensif. Pola transmigrasi sebenarnya sudah cukup lama dikenal oleh bangsa Indonesia.
Menurut sejarah, program transmigrasi awalnya diselenggarakan oleh pemerintahan Kolonial Belanda pada masa penjajahan dengan nama kolonisasi pertanian, walaupun terdapat perbedaan istilah dengan program saat ini serta di dalamnya terdapat kepentingan kaum penjajah. Pada masa itu, secara tidak langsung pemerintahan kolonial Belanda telah menerapkan pola transmigrasi dengan membawa banyak orang pribumi (terutama suku jawa) untuk melakukan ekspansi ke pulau-pulau yang memiliki potensi sumber daya alam yang besar seperti Sumatera dan Kalimantan. Orang-orang pribumi tersebut awalnya dipekerjakan sebagai pembantu dan pelayan, atau tukang kebun bagi orang-orang Belanda. Hingga adanya pergantian kekuasaan oleh pemerintahan pusat kolonial Belanda, maka mereka tetap mengabdi pada satu majikan (meneer) yang sama hingga akhirnya sang majikannya harus pindah tugas ke tempat lain. Namun karena merasa betah dan merasacukup sejahtera tinggal di pulau itu, maka orang-orang pribumi tadi tetap tinggal dan berkeluarga di tempat itu.
1.2       Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
a.                  Bagaimanakah transmigrasi yang terjadi di Indonesia?
b.                  Bagaimanakah pola transmigrasi yang berjalan di Indoensia?
c.                  Bagaimanakah pengaruh transmigrasi penduduk terhadap daerah transimigrasi di Indonesia?
1.3       Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
a.                  Mengetahui bagaimana transmigrasi swakarsa yang terjadi di Indonesia.
b.                  Mengetahui pola transmigrasi swakarsa yang terjadi di Indoensia.
c.                  Mengetahui pengaruh transmigrasi penduduk terhadap daerah transmigrasi di Indonesia.






BAB II
PEMBAHASAN
2.1       Pengertian Transmigrasi
Transmigrasi di Indonesia telah dikenal sudah lama yaitu sejak tahun 1905. Transmigrasi penting bagi pembangunan nasional. Pengertian transmigrasi menurut bahasa berasal dari dua kata, trans dan migrasi. Kata trans berarti pindah atau perpindahan dan migrasi adalah perpindahan penduduk. Dengan kata lain transmigrasi adalah perpindahan atau perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain dalam hal ini perpindahan yang dimaksudkan adalah perpindahan dari pulau yang padat penduduknya ke pulau yang sedikit penduduknya.
Transmigrasi merupakan salah satu upaya pemerintah dalam mencapai keseimbangan penyebaran penduduk, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan produksi dan meningkatkan pendapatan. Titik pusat penyelenggaraan transmigarasi adalah manusia. Program pelaksanaan transmigrasi memungkinkan untuk melaksanakan pemerataan pendidikan, kesehatan dan jaminan sosial kepada golongan penduduk yang selama ini tidak terjamah oleh fasilitas-fasilitas sosial tersebut. Transmigrasi juga berfungsi untuk mempercepat perubahan pengelompokan dan penggolongan manusia dan membentuk jalinan hubungan sosial dan interaksi sosial yang baru (Martono dalam Swasono;1986).
Sedangkan menurut Heeren (1979), “transmigrasi ialah perpindahan, dalam hal ini memindahkan orang dari daerah yang padat ke daerah yang jarang penduduknya dalam batas Negara dalam rangka kebijaksanaan nasional untuk tercapainya penyebaran penduduk yang lebih seimbang”.
Transimgrasi membantu pemerintah dalam pengembangan daerah. Daerah yang dibangun dalam transmigrasi adalah daerah asal dan daerah tujuan. Di daerah asal dapat dilaksanakan program pembangunan yaitu pelaksanaan land reform secara konsekuen, pelaksanaan proyek-proyek pembangunan, pelestarian alam dan lingkungan hidup, perubahan pola usaha tani, pencegahan korban-korban bencana alam, pengurangan kepadatan penduduk, dan pengurangan urbanisasi. Sedangkan di daerah tujuan dapat dilaksanakan program penambahan tenaga pembangunan, perubahan dana-dana dan sarana pembangunan, transfer teknologi, pelaksanaan landreform secara konsekuen, pembudidayaan potensi alam, dan pembaharuan pola hidup (Martono dalam Swasono;1986).
Transmigrasi umum ditanggung oleh pemerintah, dimulai dari pendaftaran, dan seleksi hingga tempat tinggal transmigran. Pada tahun 1956, pemerintah memberikan pinjaman kepada transmigran. Pada  delapan bulan awal, mereka mendapatkan pangan dan sandang dari pemerintah, namun mereka membayar pinjaman tersebut selama 3 tahun.
2.2       Jenis-jenis Transmigrasi
            Di Indonesia terdapat beberapa jenis transmigrasi dari hasil pengembangannya yang telah dilaksanakan di daerah-daerah tertentu karena adanya penyebab ataupun keadaan yang mendukung terjadi transmigrasi. Adapun jenis-jenis transmigrasi tersebut ialah, antara lain:
1.                  Transmigrasi Umum
Transmigrasi umum adalah program transmigrasi yang disponsori dan dibiayai secara keseluruhan oleh pihak pemerintah melalui Depnaketrans (Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi).
2.                  Transmigrasi Spontan / Swakarsa
Transmigrasi spontan adalah perpindahan penduduk dari daeran padat ke pulau baru sepi penduduk yang didorong oleh keinginan diri sendiri namun masih mendapatkan bimbingan serta fasilitas penunjang dari pemerintah.
3.                  Transmigrasi Bedol Desa
Transmigrasi bedol desa adalah transmigrasi yang dilakukan secara massal dan kolektif terhadap satu atau beberapa desa beserta aparatur desanya pindah ke pulau yang jarang penduduk. Biasanya transmigrasi bedol desa terjadi karena bencana alam yang merusak desa tempat asalnya.
4.                  Transmigrasi khusus
Transmigrasi khusus adalah transmigrasi yang diselenggarakan dengan tujuan tujuan tertentu, misalnya penduduk yang tertimpa bencana alam, pengangguran dan tunawisma di kota-kota besar, para karyawan yang ditugaskan dalam pembangunan proyek-proyek di daerah. Transmigrasi macam ini disebut transmigrasi sektoral, penyelenggaraannya diurusi oleh pemerintah daerah asal bekerja sama dengan Departemen Transmigrasi.
Bentuk-bentuk transmigrasi khusus yang lain adalah sebagai berikut :
v   Transmigrasi integral ABRI
Transmigrasi integral ABRI adalah transmigrasi yang diselenggarakan khusus untuk anggota ABRI yang menghadapi masa pensiun. Contohnya ialah Transmigrasi Angkatan Darat (Transad) di Kalimantan Barat, Transmigrasi Angkatan Laut (Transal) di Lampung, dan Transmigrasi Angkatan Udara (Transau) di Lampung.
v   Transmigrasi bekas pejuang
Transmigrasi bekas pejuang adalah transmigrasi khusus untuk bekas pejuang dalam perang kemerdekaan, ditempatkan di daerah transmigrasi Kalimantan.
v   Transmigrasi Pramuka taruna bumi
Transmigrasi ini dilakukan oleh para pramuka dengan tujuan sebagai pelopor pembangunan di daerah transmigrasi. Pemrakarsanya adalah pemerintah daerah Kabupaten Jombang (Jawa Timur). Proyek transmigrasi ini yang pertama di Lampung.
v   Transmigrasi Komite Nasional Pemuda Indonesia
Transmigrasi ini terdiri atas keluarga muda anggota KNPI dari seluruh Indonesia, misalnya para transmigran KNPI Jawa Timur dikirim ke Salim Batu, Kalimantan Timur.
5.                  Transmigrasi Lokal
Transmigrasi lokal adalah transmigrasi dari suatu daerah ke daerah lain dalam provinsi yang sama. Contohnya adalah perpindahan penduduk antar kabupaten di Lampung dan di Kalimantan Timur.
2.3       Tujuan Diadakannya Transmigrasi
Tujuan resmi program ini adalah untuk mengurangi kemiskinan dan kepadatan penduduk di pulau Jawa, memberikan kesempatan bagi orang yang mau bekerja, dan memenuhi kebutuhan tenaga kerja untuk mengolah sumber daya di pulau-pulau lain seperti Papua, Kalimantan, Sumatra, dan Sulawesi. Kritik mengatakan bahwa pemerintah Indonesia berupaya memanfaatkan para transmigran untuk menggantikan populasi lokal, dan untuk melemahkan gerakan separatis lokal. Program ini beberapa kali menyebabkan persengketaan dan percekcokan, termasuk juga bentrokan antara pendatang dan penduduk asli setempat.
Seiring dengan perubahan lingkungan strategis di Indonesia, transmigrasi dilaksanakan dengan paradigma baru sebagai berikut:
ü   Mendukung ketahanan pangan dan penyediaan papan
ü   Mendukung kebijakan energi alternatip (bio-fuel)
ü   Mendukung pemerataan investasi ke seluruh wilayah Indonesia
ü   Mendukung ketahanan nasional pulau terluar dan wilayah perbatasan
ü   Menyumbang bagi penyelesaian masalah pengangguran dan kemiskinan

2.4       Faktor-Faktor Penyebab Dilaksanakannya Transmigrasi
1.    Faktor kependudukan, Indonesia mengalami permasalahan diantaranya persebaran penduduk yang tidak merata. Penduduk Indonesia 61,1% tinggal di Pulau Jawa dan Madura; sedang luas pulau Jawa dan Madura hanya 6,9% dari luas seluruh wilayah Indonesia. Jelas bahwa Pulau Jawa berpenduduk sangat padat, sedang pulau – pulau lain berpenduduk sedikit. Oleh karena itu, paerlu adanya pemerataan melalui program transmigrasi.
2.    Faktor ekonomi, sebagian besar penduduk Indonesia bekerja disektor pertanian, sedang para petani di Jawa rata – rata hanya memiliki lahan 0,3 hektar. Idealnya petani paling sedikit harus memiliki 2 hektar lahan.
3.     Faktor lain dilaksanakanyya transmigrasi adalah karena bencana alam, daerah rawan terhadap bencana alam, daerahnya terkena proyek pembangunan misalnya akan dibangun waduk.
2.5       Dampak-dampak Transmigrasi
1.         Dampak Positif Transmigrasi
a)             mengurangi kepadatan penduduk yang tidak merata
b)             meningkatkan persatuan dan kesatuan dengan cara melakukan transmigrasi dari daerah yang padat penduduknya seperti Jawa, Bali dan Madura ke luar
Jawa, terutama ke Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jawa.
c)             Memproduksi beras dalam kaitan pencapaian swasembada pangan
2.         Dampak Negatif Transmigrasi
a)             Terjadinya marjinalisasi terhadap penduduk setempat
b)             Kecemburuan antara penduduk setempat  dengan para transmigran yang memperoleh tunjangan pemerintah yang cukup besar pada tahun-tahun pertamanya.
c)             Terjadinya gejolak di suatu daerah yang dipicu oleh rasa diperlakukan tidak adil dalam pembagian keuntungan pengelolaan sumber daya alamnya, juga diperkuat oleh ketidak sukaan terhadap para transmigran.



















BAB III
PENUTUP
3.1       Kesimpulan
Transmigrasi (Latin: trans - seberang, migrare - pindah) adalah suatu program yang dibuatoleh pemerintah Indonesia untuk memindahkan penduduk  dari suatu daerah yang padatpenduduk (kota) ke daerah lain (desa) di dalam wilayah Indonesia. Penduduk yangmelakukan transmigrasi disebut transmigran.
Ada dua macam transmigrasi, yaitu transmigrasi umum dan transmigrasi swakarsa. Transmigrasi umum adalah transmigrasi yang sepenuh biayanya ditanggung oleh pemerintah (Swasono;1986). Sedangkan transmigrasi swakarsa secara harfiah adalah transmigrasi yang dilaksanakan atas dorongan sendiri, dengan kemauan dan biaya ditanggung sendiri, berpindah dari daerah asal dan menetap di daerah transmigrasi (Warsito et.al;1995). Transmigrasi merupakan tumpuan harapan bagi berbagai pihak, tidak lagi menjadi tumpuan bagi petani kecil saja (Swasono, 1986).
Masalah-masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan transmigrasi adalah adanya benturan budaya yang terjadi antara daerah asli dengan pendatang, adanya persengketaan tanah antara penduduk asli dan pendatang, pertambahan jumlah penduduk yang pada awalnya hanya sedikit, menjadi lebih padat.
3.2       Saran
            Setiap sistem yang dibuat oleh pemerintah selalu ada kekurangan dan kelebihannya. Dengan begitu kita bisa melihat kekurangan tersebut dari pengalaman-pengalaman setelah diterapkannya sistem tersebut. Jika hasil dari penerapan tersebut yang didapat kurang sesuai, maka terdapat kesalahan yang harus diperbaiki.

Friday, 7 August 2015




MAKALAH ANNUITAS EKONOMI REKAYASA


BAB I
PENDAHULUAN

1.1         LATAR BELAKANG MASALAH
Anuitas dapat didefenisikan pembayaran premi asuransi, pembayaran hipotik, pembayaran bunga atas obligasi, pembayaran sewa, pembayaran secara cicilan, pembayaran uang pensiun adalah beberapa contoh daripada sebagai suatu rangkaian pembayaran atau penerimaan berkala atau periodik dari sejumlah uang yang sama besarnya dan dibayar atau diterima pada setiap periode waktu yang sama selama jangka waktu tertentu pembayaran atau penerimaan secara anuitas.Makalah ini membahas tentang Anuitas meningkat dan menurun. Dalam menyelesaikan persoalan tentang Anuitas di butuhkan teknik perhitungan dengan metode Penurunan rumus Matematik.
Rumusan masalah pada makalah ini yaitu apa yang dimaksud dengan anuitas meningkat dan menurun, apakah perbedaan dari Anuitas Meningkat biasadan Anuitas Meningkat dimuka, apakah perbedaan dari Anuitas Menurun biasa dan Anuitas Menurun di muka, bagaimana cara menghitung pembayaran dalam waktutertentu dengan metode anuitas meningkat, dan bagaimana cara menghitung pembayaran dalam waktu tertentu dengan metode anuitas meningkat.
Tujuan tulisan ilmiah ini adalah untuk menjelaskan pengertian anuitas meningkat dan menurun, untuk menghitung tingkat bunga pada peminjaman, untuk menghitung pembayaran dalam waktu tertentu dengan metode anuitas meningkat dan menurun, dan untuk mengetahui penurunan rumus anuitas meningkat dan RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana pengertian dari anuitas?
2.      Apa fungsi-fungsi dari anuitas?
3.      Bagaimana menghitung anuitas?
1.2         MANFAAT PEMBELAJARAN
1.      Memahami pengertian dari anuitas.
2.      Memahami akan fungsi-fungsi dari anuitas
3.      Memahami dari perhitungan anuitas.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1       PENGERTIAN DARI ANUITAS
Anuitas dalam teori keuangan adalah suatu rangkaian penerimaan atau pembayaran tetap yang dilakukan secara berkala pada jangka waktu tertentu. Contohnya adalah bunga yang diterima dari obligasi atau dividen tunai dari suatu saham preferen.
Merupakan suatu rangkaian pembayaran atau penerimaan secara cicilan yang pada umumnya sama besarnya serta dibayarkan setiap masa tertentu dan masing-masing jumlahnya terdiri dari bagian pokok pinjaman serta bunganya.
Perhitungan Anuitas (Annuity) biasanya digunakan untuk :
Perhitungan bunga atas suatu pinjaman, yaitu dengan system Anuitas maka dapat diketahui berapa besarnya uang yang harus dibayarkan untuk membayar bunga serta pokok pinjaman selama jangka waktu pinjaman.
Misalnya dengan pinjaman sebesar Rp.5.000.000,00  untuk jangka waktu 5 tahun serta bunga sebesar 10 %, maka dengan system Anuitas dapat dihitung berapa total pembayaran  bunga dan pokok pinjaman pada tahun ke- 5 tersebut. Setelah diketahui jumlah total bunga dan pokok pinjaman selama 5 tahun, baru kemudian dibuatkan tabel pembayaran cicilan setiap bulan atas pokok dan pinjaman tersebut.
Perhitungan bunga atas suatu Deposito/Investasi Jangka Panjang, yaitu dengan system Anuitas maka dapat diketahui berapa besarnya uang yang akan diterima jika kita menyimpan uang dalam bentuk deposito/Investasi Jangka Panjang yang memberikan imbalan bunga selama jangka waktu Deposito/Investasi Jangka Panjang tersebut.
Misalnya dengan mendepositokan uang sebesar Rp.20.000.000,00  untuk jangka waktu 10 tahun serta bunga sebesar 5 %, maka dengan system Anuitas dapat dihitung berapa total  bunga yang diterima selama 10 tahun tersebut dan berapa jumlah total uang kita setelah 10 tahun kemudian . Atau yang sering juga digunakan adalah pada tabungan pendidikan, tabungan hari tua dan lain-lain.
2.2       Fungsi dan Kegunaan Anuitas
            Konsep anuitas dapat dimulai dengan ketersediaan sejumlah data yang digunakan untuk membayar angsuran dalam suatu jangka waktu sampai dana tersebut habis. Anuitas sendiri merupakan suatu perangkat pencarian sejumlah uang. Dari bahasan singkat ini terpenting anuitas tidak dibahas. Yaitu faktor tingkat bunga, karena uang yang teritnggal belum dibayarkan mendapat bunga dan bunga ini diberikan pula pada penerima anuitas. Dengan mengetahui dana yang tersedia, jangka pembayaran dan asumsi tingkat bunga akan dapat ditentukan jumlah uang yang dibayarkan.
Contoh, nilai kini dari anuitas sebesar Rp 1 untuk pembayaran tahunan selama 20 tahun dengan bunga 7% per tahun adalah Rp 10,59. Artinya, jika seseorang mempunyai dana sebesar Rp 1 selama 20 tahun. Penerima anuitas akan menerima secara keseluruhan sebanyak Rp 20 untuk uang yang ditanamkan sebesar Rp 10,69.
Terdapat satu faktor penting yang tidak muncul dalam definisi sederhana di atas yang merupakan salah satu faktor pembeda perusahaan asuransi jiwa dengan lembaga keuangan lainnya. Setiap orang bisa membentuk anuitas dan membayar secara berkal dalam suatu jangka waktu, tetapi hanya perusahaan asuransi jiwa yang dapat membentuk dan menjaminpenghasilan berkala selama penerima anuitas hidup. Hal ini dikarenakan adanya pengetahuan dan pengalaman dalam penggunaan tabel mortalita, serta kemampuan menggabungkan faktor kehidupan ke dalam faktor-faktor lain dalam anuitas.
Oleh karena itu, anuitas dalam bahasan ini berdasar pada anuitas kehidupan yang membedakan dari anuitas yang memberikan jaminan jangka waktu dan besar pembayaran.
2.2.1    Faktor Manfaat anuitas
            Faktor-faktor yangterlibat dalam pembentukan dana anuitas dan penetapan manfaat yang diterimakan adalah usia, jenis kelamin, jumlah pembayaran berkala, tingkat bunga, biaya operasi perusahaan dan pilihan carapembayaran.
·         Usia penerima anuitas
·         Jenis kelamin penerima anuitas
·         Jumlah anuitas
·         Pendapatan bunga anuitas
·         Faktor biaya
2.3       Konsep Nilai Waktu Dari Uang
1. Nilai yang Akan Datang (Future Value)
Nilai yang akan datang menunjukkan besarnya nilai uang yang ada saat ini bila diproyeksikan ke masa mendatang. Nilai uang di masa mendatang dapat berbeda dengan nilai uang saat ini dikarenakan beberapa hal. Andaikan seorang membeli surat berharga senilai $ 5000,-  dan memperoleh bunga 15 % per tahun. Berapakah yang akan diterimanya?
Po        =Pokok, atau jumlah awal pada tahun ke 0= $ 5000,-
r           = tingkat diskonto = tingkat bunga= 15 %
Po^r     = bunga yang diperoleh
FV‹r,n› = nilai pada akhir tahun ke-n dengan tingkat bunga r %
Maka untuk n = 1, FV (r,n) dapat dihitung sebagai berikut:
FV(r,1)            = Po + Po^r
= Po (1+r)
maka:
FV‹15%,1›      = $ 5000 (1+0,15)
= $ 5750
2. Nilai Sekarang (Present Value)
Pada prinsipnya konsep nilai sekarang adalah kebalikan dari konsep nilai yang akan datang. Konsep ini menyatakan nilai uang pada awal periode penilaian dari sejumlah uang pada akhir periode dengan tingkat bunga tertentu. Dalam kaitannya dengan konsep nilai yang akan datang, nilai sekarang mempunyai rumus:
FV       = P0 (1+r)^n ,sehingga:
P0        = FV (1+r)^n
3. Nilai Masa Datang dan Nilai sekarang
Faktor bunga nilai sekarang PVIF(r,n) yaitu persamaan untuk diskonto dalam mencari nilai sekarang merupakan kebalikan dari faktor bunga nilai masa depan FVIF(r,n) untuk kombinasi r dan n yang sama.
FV = Ko (1 + r) ^n
Keterangan :
 FV        = Future Value / Nilai Mendatang
Ko        = Arus Kas Awal
r           = Rate / Tingkat Bunga
^n        = Tahun Ke-n (dibaca dan dihitung pangkat n).
 Contoh : Jika kita menabung 2 juta rupiah dengan bunga 15% maka setelah 1 tahun kita akan mendapat :
FV = 2.000.000 (1 + 0,15) ^1
FV = 2.300.000
4. Annuitas
Anuitas adalah suatu rangkaian penerimaan atau pembayaran tetap yang dilakukan secara berkala pada jangka waktu tertentu. Contohnya adalah bunga (interest) yang diterima dari obligasi atau dividen tunai dari suatu saham preferen.
Rumus: 
Sn= a [(1 + i)n-1 + … + (1 + i)1 + (1 + i)0]
 Ada dua jenis anuitas:
  1. Anuitas biasa (ordinary) adalah anuitas yang pembayaran atau penerimaannya terjadi pada akhir periode.
  2. Anuitas jatuh tempo (due) adalah anuitas yang pembayaran atau penerimaannya dilakukan di awal periode.
A. Anuitas Biasa
Suatu janji untuk pembayaran jumlah tertentu (misalkan $ 9000) per tahun selama 3 tahun dan bila tiap pembayaran dilakukan pada tiap akhir tahun disebut annuitas biasa.
Jika dinyatakan dengan aljabar;
Sn adalah nilai masa depan dari anuitas, PMT (Payment) sebagai pembayaran periodik,
n adalah jangka waktu anuitas, dan FVIFA(r,n) adalah faktor bunga nilai masa depan dari anuitas (future Value Interest Factor fr an Annuity = FVIFA), maka:
Sn        = PMT (1+r)n-2 + … +PMT(1+r)1 + PMT(1+r)0
Sn        = PMT[(1+r)n-1 + … +(1+r)1 +(1+r)0
Sn        = PMT n-1
Sn        = PMT(FVIFAr,n)
B. Anuitas terhutang
Bila ketiga pembayaran sebesar masing-masing $3000 yang dilakukan pada awal tahun, maka keadaan ini disebut anuitas terhutang (annuity due). Setiap pembayaran dimajemukan untuk tambahan satu tahun dan nilainya dihitung dengan cara mengalihkan PMT(FVIFA(r,n) dengan (1+r).
C. Nilai Sekarang Anuitas
Nilai sekarang dari pembayaran pertama adalah PMT [1/(1+r)]2 dan seterusnya. Nilai sekarang dari anuitas n tahun disebut An dan faktor bunga nilai sekarang anuitas (Present Value Interest Factor for an Annuity) disebut PVIFA¬(r,n). Sehingga persamaannya menjadi:
An       = PMT + PMT + … + PMT
An       = PMT
An       = PMT
An       = PMT(PVIFAr,n)
D. Nilai Sekarang dari Anuitas Terhutang
Setiap pembayaran maju satu periode, nilai sekarangnya (PV) akan menjadi lebih tinggi. Untuk menghitungnya, persamaan di atas dikembangkan menjadi:
An(Anuitas terhutang) = PMT(PVIFA¬(r,n) (1+r)
E. Anuitas Abadi
Sebagian besar anuitas terbatas jangka waktunya secara definitif misalnya 5 tahun atau 7 tahun, tetapi terdapat juga anuitas yang berjalan terus secara infinitif disebut anuitas abadi (perpetuities). 
F. Nilai Sekarang dan Seri Pembayaran yang Tidak Rata
Persamaan umum berikut ini bisa digunakan untuk mencari nilai sekarang dari seri pembayaran yang tak rata. Nilai sekarang anuitas abadi = PMTt adalah pembayaran ditahun t.

Sehingga menjadi:
PV       = PMTt(PVIFr,t)
G. Amortisasi Pinjaman
Amortisasi adalah pengurangan nilai aktiva tidak berwujud, seperti merek dagang, hak cipta, dan lain-lain. Secara bertahap dalam jangka waktu tertentu pada setiap periode akuntansi. Pengurangan ini dilakukan dengan mendebit akun beban amortisasi terhadap akun aktiva.
Anuitas adalah serangkaian pembayaran yang sama untuk jumlah tahun tertentu.
Anuitas dibagi menjadi dua tipe dasar:
1.    Anuitas biasa anuitas dengan pembayaran di akhir periode
2.    Anuitas jatuh tempo anuitas dengan pembaran pada awal periode
Catatan: Dalam manajemen keuangan yang lazim digunakan adalah anuitas biasa untuk penyebutan pada anuitas, kecuali jika disebutkan anuitas jatuh tempo.
ANUITAS MAJEMUK
Menyimpan   atau   menginvestasikan    sejumlah   uang   yang   sama   di   akhir   tahun   dan memungkinkan tumbuh.
Pemanfaatannya misal      untuk tabungan pendidikan, mobil baru, rumah.
Ilustrasi:
Ilustrasi  sederhana  untuk 2 tahun  anuitas:  Misal  Kita menyimpan  Rp 5.000.000,-  dengan bunga 6%, maka pada tahun ke dua akan dihitung sebagai berikut.
FV2             = Rp 5.000.000(1+0,06) + Rp5.000.000
= Rp 5.000.000(1,06) + Rp 5.000.000
= Rp 5.300.000 + Rp 5.000.000
= Rp 10.000.300
Dari ilustrasi tersebut dapat dilihat bahwa untuk nilai masa depan dari dua tahun anuitas (biasa)  didapat  dari  dua  kali  setoran  (Rp  5.000.000  x 2)  ditambah  dengan  bunga  untuk tahun  pertama  Rp  300.000.  Pembayaran  tahun  kedua  belum  mendapat  bunga  karena setoran pada akhir tahun diasumsikan  baru saja disetorkan sehingga tidak diperhitungkan bunga.
Sekarang dari ilustrasi tersebut kita kembangkan dengan jangka waktu 5 tahun, maka akan didadapat perhitungan sebagai berikut:
FV5     = Rp5000.000(1+0,06)4+Rp5000.000(1+0,06)3+
               Rp5000.000(1+0,06)2 + Rp5.000.000(1+0,06) + Rp5.000.000
            = Rp5.000.000(1,262)+Rp5.000.000(1,191)+
                Rp5.000.000(1,124)+ Rp5.000.000(1,060)+  Rp5.000.000
            = Rp6.310.000+Rp5.955.000+5.620.000+Rp5.300.000+Rp5.000.000
            = Rp28.185.000
FV    = nilai masa depan anuitas di akhir tahun ke-n
PMT = pembayaran anuitas yang disimpan atau diterima di akhir tiap tahun
i        = tingkat suku bunga (diskonto) tahunan
n       = jumlah tahun berlangsungnya anuitas
FVn          = PMT(FVFAi,n)
Misalnya dari Rp5.000.000 akan kita hitung berapa nilai masa depan anuitas pada tingkat bunga 6% selama 10 tahun.
FVn    = PMT(FVFA6%,10th)
= Rp5.000.000(13,181)
= Rp65.904.000
Menggunakan  excel untuk membuat tabel anuitas:
Kita bisa menggunakan  fasilas bantu melalui program excel dan memasukkan  rumus untuk menyusun tabel FVIFA. Silahkan dicoba dengan logika rumus/langkah sebagai berikut
1.    Buat tabel berisi bunga dalam prosen di bagian barisnya
2.    Buat urutan angka untuk n
3.    Isikan rumus pada tahun pertama (n=1) yaitu = ((1+bunga)^(n tahun-1))
4.    Isikan  rumus  pada  tahun  kedua  (n=2)  yaitu  = ((1+bunga)^(n  tahun-1))+hasil  dari  n-1 atau hasil pada cell diatasnya.
5.    Copykan rumus pada tahun ke-2 tersebut ke bawah sampai akhir n.
6.    Copykan ke kanan sampai dengan akhir tabel bunga yang kita buat.